Telkom Ekspansi Malaysia

Kuala Lumpur – Tak cuma ingin jago kandang, Telkom melalui anak usahanya yakni Telkom International (Sdn Bhd) atau Telin Malaysia, melebarkan bisnisnya ke Malaysia. Di Negeri Jiran, Telin menggandeng Telkomsel untuk menjajakan kartu seluler As 2in1.


Oki Wiranto, CEO Telin Malaysia menyatakan, keberadaan mereka seiring menandai perayaan kemerdekaan bersama Indonesia (17 Agustus) dan Malaysia (31 Agustus).

Telin sudah mendapat lisensi Mobile Virtual Network Operator (MVNO) dari pemerintah Malaysia. Ini artinya, untuk menjual layanannya, unit bisnis internasional Telkom itu harus menyewa dari operator pemilik jaringan, dalam hal ini adalah Maxis.

“Di Malaysia sendiri ada tiga besar operator yang memiliki jaringan. Maxis, Celcom, dan Digi. Nah, Maxis akan menjadi MNO (Mobile Network Operator) kita,” ujarnya, saat ditemui beberapa media Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, di sela official launch Telin Malaysia.

Oki menambahkan, untuk target pasar jelas ditujukan bagi komunitas Indonesia. Tidak hanya para tenaga kerja Indonesia (TKI), tetapi juga termasuk pelancong, hingga pelajar.

“Pasar Indonesia itu diperebutkan operator tiga besar (Maxis, Celcom, dan Digi). Dari data yang ada, jumlah TKI sekitar 2,8 juta, kemudian traveler — terutama yang health (berkunjung ke Malaysia untuk berobat) — sekitar 300 ribu, lalu student di angka 200 ribuan,” paparnya.

Target pasar Telin Malaysia juga termasuk dari kalangan korporat. Dimana layanan enterprise Indonesia-Malaysia juga menjadi pasar yang seksi untuk digali. Layanan yang bisa dijual seperti menyediakan sarana ICT, mobile EDC, telekomunikasi back office, dan solusi lainnya.

“Lihat saja, karena banyaknya TKI, beberapa bank buka di sini. Tadi BTN (Bank Tabungan Negara) datang untuk menjajaki kerjasama dengan Telkom untuk buka cabang di sini,” kata Oki.

“Lalu yang sudah sign ada Bank MUamalat dan Mandiri. Server mereka kan di Indonesia, kita fasilitasi untuk membawa data-datanya ke sini. Karena untuk internet banking punya permasalahan yang mahal, nah dengan kekuatan Telkom kita bisa membuat data-data itu jadi locally, jadi lebih murah,” jelasnya.

Setelah persiapan yang ngebut tersebut. Telin Malaysia selanjutnya sudah ancang-ancang untuk commercial launch pada 29 September 2013. Hanya saja untuk awalnya, Telin masih belum bisa all out berekspansi.

Sebab, kemampuan mitra operator jaringannya — Maxis — masih belum optimal. Salah satunya adalah lantaran belum tersedianya platform mandiri yang dijalankan oleh Telin untuk operasional bisnisnya sehari-hari.

Imbasnya, Telin masih harus tergantung ke Maxis dan belum bisa mengelola dirinya sendiri. Seperti untuk urusan pricing, penyelenggaraan service dan lainnya harus ‘lapor’ Maxis dulu.

“Operator MVNO itu harusnya operator yang independent, bisa mengelola diri sendiri dan tidak tergantung MNO-nya. Mudah-mudahan saat akhir Desember kita jadi MVNO beneran, dengan punya platform sendiri,” lanjut Oki.

Kantung TKI

Sayang, Telin enggan mengungkap soal investasi yang telah disiapkan untuk mengekspansi Malaysia. Menurut Budi Satria Dharma Purba, Board of Director Telin Malaysia, investasi yang dikucurkan bertahap dan melihat perkembangan bisnis.

“Jadi kalau tumbuhnya besar, kita akan kucurkan investasi lagi. Tapi kita sangat yakin dengan melihat potensi pasar di sini yang tinggi,” kata Budi.

Ia menambahkan, penetrasi pengguna seluler di Malaysia pun terbilang tinggi, sekitar 132%. Maxis dan Celcom disebut sebagai penguasa dengan kisaran pangsa pasar 32%-33% bagi keduanya.

Malaysia sendiri dikategorikan menjadi dua bagian, kawasan Semenanjung dan Malaysia Timur. Wilayah yang menjadi kantung TKI diprediksi berada di Malaysia bagian Timur, terutama Sabah dan Serawak.

Termasuk di beberapa wilayah di Semenanjung. Nah, kota-kota kantung TKI inilah yang awalnya akan menjadi target pasar utama kartu As 2in1.

Coverage MNO (Maxis) kita sudah nation wide, jadi layanan kita juga sudah seluas mereka (Maxis) secara nasional. Target juga sudah di-mapping, dimana akan membidik TKI dan traveler yang takut roaming. Dan untuk TKI yang sudah kita mapping akan terkait dengan rencana penempatan GraPARI,” imbuh Budi.

“Ini kita terus berbenah, karena pada tahun pertama kita punya target 100 ribu pengguna,” tandasnya.